Sabtu, 28 Mei 2011

ASKEP GASTROENTERITIS


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Penyakit gastroenteritis hingga kini masih merupakan salah satu penyakit utama pada bayi dan anak di indonesia. Diperkirakan angka kesakitan berkisar diantara 150-430 / seribu penduduk setahunnya. Dengan upaya yang sekarang telah dilaksanakan, angka kesakitan di RS dapat ditekan menjadi < dari 3 %.
Penggunaan istilah diare sebenarnya lebih tepat dari pada gasteroentritis, karena istilah yang disebut terakhir ini memberikan kesan seolah-olah penyakit ini hanya disebabkan oleh infeksi dan walaupun disebabkan oleh infeksi, lambung jarang mengalami peradangan.
Hippocrates mendefinisikan diare sebagai pengeluaran tinja yang tidak normal dan cair. Dibagian IKA FKUI / RSCM diare diartikan sebagai buang air besar yang tidak normal / bentuk tinja yang encer dengan frekuensi lebih banyak dari biasanya. Neonatus dinyatakan diare bila frekuensi BAB sudah lebih dari 4 kali.  Sedangkan  untuk  bayi  berumur > 1 bulan  dan anak, bila frekuensi sudah > 3 kali.

B.     Tujuan Penulisan
  1. Tujuan umum
Tujuan umum dari hasil studi kasus ini adalah untuk mendapatkan pengalaman nyata dalam melaksanakan asuhan keperawatan dengan gangguan sistem pencernaan:gastroenteritis di ruang cempaka 3 RSUD KUDUS.
  1. Tujuan khusus
a.       Memahami konsep teori yang telah diajarkan,ini adalah salah satu dari mata ajar keperawatan medikal bedah.
b.      Melaksanakan pengkajian pada kasus gangguan sistem pencernaan: gastroenteritis
c.       Merumuskan diagnosa keperawatan pada kasus gastroenteritis
d.      Menyusun rencana keperawatan pada kasus gastroenteritis
e.       Melaksanakan tindakan keperawatan pada kasus gastroenteritis
f.       Melaksanakan evaluasi asuhan keperawatan pada kasus gastroenteritis
g.      Mendokumentasikan asuhan keperawatan pada kasus gastroenteritis












BAB II
TINJAUAN TEORI

A.    KONSEP PENYAKIT
  1. DEFINISI
a.       Diare / Gastroenteritis adalah meningkatnya frekuensi buang air besar, konsistensi feses menjadi cair dan perut terasa mules ingin buang air besar. (Arjatmo,2001)
b.      Gastroenteritis adalah kondisi dimana terjadi frekuensi defekasi yang tidak biasa (lebih dari 3 kali sehari, juga perubahan dalam jumlah dan konsistensi (fesescair).(Brunner and Suddart, 2000)
c.       Gastroenteritis adalah frekuensi buang besar lebih dari 4x sehari pada bayi dan lebih dari 3x sehari pada anak dengan konsistensi feces cair/encer berwarna hijau/ dapat pula bercampur lender dan darah atau lender saja. (Ngastiyah, 1997)

2.      ETIOLOGI
Penyebab dari diare akut antara lain :
a.       Faktor Infeksi
a)      Infeksi Virus
a.       Retavirus
·         Penyebab tersering diare akut pada bayi, sering didahului atau disertai dengan muntah.
·         Timbul sepanjang tahun, tetapi biasanya pada musim dingin.
·         Dapat ditemukan demam atau muntah.
b.      Enterovirus
·         Biasanya timbul pada musim panas.
c.       Adenovirus
·         Timbul sepanjang tahun.
·         Menyebabkan gejala
·         la pada saluran pencernaan/pernafasan.
b)      Bakteri
a.       Stigella
·         Semusim, puncaknya pada bulan Juli-September
·         Insiden paling tinggi pada umur 1-5 tahun
·         Dapat dihubungkan dengan kejang demam.
·         Muntah yang tidak menonjol
·         Sel polos dalam feses
·         Sel batang dalam darah
b.      Salmonella
·         Semua umur tetapi lebih tinggi di bawah umur 1 tahun.
·         Menembus dinding usus, feses berdarah, mukoid.
·         Mungkin ada peningkatan temperature
·         Muntah tidak menonjol
·         Sel polos dalam feses
·         Masa inkubasi 6-40 jam, lamanya 2-5 hari.
·         Organisme dapat ditemukan pada feses selama berbulan-bulan.
c.       Escherichia coli
·         Baik yang menembus mukosa (feses berdarah) atau yang menghasilkan entenoksin.
·         Pasien (biasanya bayi) dapat terlihat sangat sakit.
b.      Faktor Non Infeksiosus
1.      Malabsorbsi
a)      Malabsorbsi karbohidrat disakarida (intoleransi, lactosa, maltosa, dan sukrosa), non sakarida (intoleransi glukosa, fruktusa dan galaktosa). Pada bayi dan anak yang terpenting dan tersering ialah intoleransi laktosa.
b)      Malabsorbsi lemak : long chain triglyceride.
c)      Malabsorbsi protein : asam amino, B-laktoglobulin.


c.       Faktor makanan
Makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan (milk alergy, food alergy, dow’n milk protein senditive enteropathy/CMPSE).
d.      Faktor Psikologis
Rasa takut,cemas.
3.      PATOFISIOLOGI
Gastroenteritis akut ditandai dengan muntah dan diare berakibat kehilangan cairan dan elektrolit. Penyebab utama gastroenteritis akut adalah virus (roba virus, adeno virus enterik, norwalk virus serta parasit (blardia lambia) patogen ini menimbulkan penyakit dengan menginfeksi sel-sel). Organisme ini menghasilkan enterotoksin atau kritotoksin yang merusak sel atau melekat pada dinding usus pada gastroenteritis akut. Usus halus adalah organ yang palilng banyak terkena.
Gastroenteritis akut ditularkan melalui rute rektal, oral dari orang ke orang. Beberapa fasilitas perawatan harian yang meningkatkan resiko gastroenteritas dapat pula merupakan media penularan. Transpor aktif akibat rangsang toksin bakteri terhadap elektrolit ke dalam usus halus. Sel intestinal mengalami iritasi dan meningkatkan sekresi cairan dan elektrolit, mikroorganisme yang masuk akan merusak sel mukosa intestinal sehingga akan menurunkan area permukaan intestinal.
Perubahan kapasitas intestinal dan terjadi gangguan absorpsi cairan dan elektrolit. Peradangan dapat mengurangi kemampuan intestinal mengabsorpsi cairan dan elektrolit hal ini terjadi pada sindrom mal absorpsi yang meningkatkan motilitas usus intestinal. Meningkatnya motilitas dan cepatnya pengosongan pada intestinal merupakan gangguan dari absorbsi dan sekresi cairan dan elektrolit yang berlebihan. Cairan potasium dan dicarbonat berpindah dari rongga ekstra seluler ke dalam tinja sehingga menyebabkan dehidrasi, kekurangan elektrolit dapat terjadi asidosis metebolik.
Iritasi usus oleh suatu patogen mempengaruhi lapisan mukosa usus sehingga terjadi produk sekretonik termasuk mukus. Iritasi mikroba juga mempengaruhi lapisan otot sehingga terjadi peningkatan motiltas menyebabkan banyak air dan elektrolit terbuang, karena waktu yang tersedia untuk penyerapan zat-zat tersebut di colon berkurang.
(Corwin,2001)
4.      PATHWAY
 



























(Corwin,2001)


5.      MANIFESTASI KLINIS
Manifestasi Klinis (Ngastiyah, 1997)
a.       Diare (BAB, lembek, cair)
1)      Faktor osmotik disebabkan oleh penyilangan air ke rongga usus dalam perbandingan isotonic, ketidakmampuan larutan mengabsorbsi menyebabkan tekanan osmotik menghasilkan pergeseran cairan dan Iodium ke rongga usus.
2)      Penurunan absorbsi atau peningkatan sekresi sekunder air dan elektrolit. Peningkatan ini disebabkan sekresi sekunder untuk inflamasi atau sekresi aktif sekunder untuk merangsang mukosa usus.
3)      Perubahan mobiliti
Hiperperistaltik atau hipoperistaltik mempengaruhi absorpsi zat dalam usus.
b.      Mual, muntah dan panas (suhu > 370C)
Terjadi karena peningkatan asam lambung dan karena adnaya peradangan maka tubuh juga akan berespon terhadap peradangan tersebut sehingga suhu tubuh meningkat.
c.       Nyeri perut dan kram abdomen
Karena adanya kuman-kuman dalam usus, menyebabkan peningkatan peristaltik usus dan efek yang timbul adanya nyeri pada perut atau tegangan atau kram abdomen.
d.      Peristaltik meningkat (> 35x/menit)
Akibat masuknya patogen menyebabkan peradangan pada usus dan usus berusaha mengeluarkan ioxin dan meningkatkan kontraksinya sehingga peristaltik meningkat.
e.       Penurunan berat badan
Terjadi karena sering BAB encer, yang mana feses malah mengandung unsur-unsur penting untuk pertumbuhan dan perkembangan sehingga kebutuhan nutrisi kurang terpenuhi.


f.       Nafsu makan turun
Terjadi karena peningkatan asam lambung untuk membunuh bakteri sehingga tumbuh mual dan rasa tidak enak.
g.      Turgor kulit menurun dan membran mukosa kering
Karena banyak cairan yang hilang dan pemasukan yang tidak adekuat.
h.      Mata cowong
Adanya ketidakseimbangan cairan tubuh dan peningkatan tekanan osmotik mengakibatkan beberapa jaringan kekurangan cairan dan oksigen.
i.        Gelisah dan rewel
Ini terjadi karena kompleksitas dari tanda klinis yang dirasakan penderita sehingga tubuh tidak merasa nyaman sebab adanya ketidak homeostasis dalam tubuh.
j.        Kesadaran menurun
Gejala klinis 10,11,12 terjadi karena penurunan cairan tubuh yang mengakibatkan kerja jantung ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan O2 dan nutrisi sistemik sehingga denyut jantung cepat, nadi cepat tapi lemah, disebabkan peningkatan denyut jantung dengan peningkatan kepekaan dan tekanan osmotik plasma darah. Efeknya ginjal berusaha ineretensi air dengan mencegah eksresi Na sehingga urine pekat dan Na meningkat dengan cairan sirkulasi yang buruk dampaknya otak kekurangan O2 dan nutrisi sehingga pusat kesadaran hipotalamus terganggu.
(http://askep-kesehatan.blogspot.com/2009/07/askep-gastroenteritis.html)
6.      PENATALAKSANAAN
a.      Pemberian cairan
1)      Cairan per oral.
Pada klien dengan dehidrasi ringan dan sedang, cairan diberikan peroral berupa cairan yang berisikan NaCl dan Na, HCO, K dan Glukosa, untuk Diare akut diatas umur 6 bulan dengan dehidrasi ringan, atau sedang kadar natrium 50-60 Meq/l dapat dibuat sendiri (mengandung larutan garam dan gula ) atau air tajin yang diberi gula dengan garam. Hal tersebut diatas adalah untuk pengobatan dirumah sebelum dibawa kerumah sakit untuk mencegah dehidrasi lebih lanjut.
2)      Cairan parenteral.
Mengenai seberapa banyak cairan yang harus diberikan tergantung dari berat badan atau ringannya dehidrasi, yang diperhitungkan kehilangan cairan sesuai dengan umur dan berat badannya.
b.      Diatetik : pemberian makanan dan minuman khusus pada klien dengan tujuan penyembuhan dan menjaga kesehatan adapun hal yang perlu diperhatikan :
·         Memberikan asi.
·         Memberikan bahan makanan yang mengandung kalori, protein, vitamin, mineral dan makanan yang bersih.
c.       Obat-obatan.
1)      Obat anti sekresi.
2)      Obat anti spasmolitik.
3)      Obat antibiotik.
(http://kumpulan-asuhan-keperawatan.blogspot.com/2009/06/askep-gastroenteritis.html)
7.      KOMPLIKASI
a.       Dehidrasi
b.      Renjatan hipovolemik
c.       Kejang
d.      Bakterimia
e.       Mal nutrisi
f.       Hipoglikemia
g.      Intoleransi sekunder akibat kerusakan mukosa usus.
(http://laporanpendahuluan.blogspot.com/2010/02/laporan-pendahuluan-gastroenteritis.html)



B.     ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN PASIEN GASTROENTERITIS
1.      FOKUS PENGKAJIAN
a.       Pemeriksaan fisik
·         Kepala
ubun-ubun ( pada infant ) tampak cekung, gangguan pertumbuhan rambut, rambut kusam, tidak mengkilap dan rontok.
·         Mata
Palpebra tampak cekung, konjungtiva anemis
·         Mulut
Warna dan kelembaban, adanya lesi, bersisik / mengelupas dan kering
·         Abdomen
Nyeri tekan, abdomen tegang, distensi, hipertimpani, peristaltik meningkat, berat badan menurun.
·         Kulit
Warna kulit, hidrasi, kering,turgor kulit menurun, keringat banyak.
·         TTV
Suhu meningkat, nadi cepat, respirasi meningkat, TD meningkat atau menurun.
b.       Aktivitas/Istirahat
Gejala: kelemahan, keletihan, malaise, cepat lelah, insomnia, tidak bisa tidur semalaman karena diare,merasa gelisah dan ansietas,pembatasan aktivitas.
c.       Sirkulasi
Tanda:Takikardia (respons terhadap demam, dehidrasi, proses inflamasi dan Nyeri)      Kulit/membran mukosa:turgor buruk,kering,lidah pecah-pecah
                 (dehidrasi/malnutrisi).
d.      Integritas Ego
Gejala:Ansietas,ketakutan,emosi kesal,misal:perasaan tak berdaya/tak ada harapan.
Tanda:Menolak,perhatian menyempit,depresi

e.       Eliminasi
Gejala:tekstur feces bervariasi dari bentuk lunak sampai bau/berair
Tanda:Menurunnya bising usus,tak ada peristaltik yang dapat dilihat.
f.       Makanan/Cairan
Gejala:Anoreksia, mual/muntah, penurunan berat badan, tidak toleran terhadap diet/sensitif misal:buah segar/sayur,produk susu,makanan berlemak.
Tanda: Penurunan lemak subkutan/massa otot, kelemahan, tonus otot,dan Turgor kulit buruk,membran mukosa pucat,luka,inflamasi ronnga mulut.
g.      Higiene
Tanda:Ketidakmampuan mempertahankan perawatan diri, stomatitis Menunjukkan kekurangan vitamin,bau badan.
h.      Nyeri/Kenyamanan
Gejala:nyeri/nyeri tekan pada kuadran kiri bawah(mungkin hilang dengan titik nyeri berpindah, nyeri tekan (artritis). Nyeri mata,fotofobia(iritis).
Tanda:Nyeri tekan abdomen/distensi
i.        Keamanan
Tanda:Lesi kulit mungkin ada misal eritema nodusum(meningkat,nyeri tekan dan membengkak)pada tangan,muka,pioderma gangrenosa(lesi tekan purulen/lepuh dengan  batas keunguan)pada paha,kaki,dan mata kaki.
(Doenges,2001)
2.      DIAGNOSA KEPERAWATAN
a.       Gangguan keseimbangan  cairan dan elektrolit berhubungan dengan (diare berat, muntah ), pemasukan terbatas ( mual ).
b.      Resti terhadap kekurangan nutrisi dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake inadekuat
c.        Resti terhadap gangguan integritas kulit berhubungan dengan iritasi anal
d.       Resti terhadap infeksi berhubungan dengan bakteri sekunder
e. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan kram abdomen
(Doenges, 2001)
3.      INTERVENSI DAN RASIONALISASI
a.      Gangguan keseimbangan  cairan dan elektrolit berhubungan dengan k ( diare berat, muntah ), pemasukan terbatas ( mual )
Kriteria Hasil :
a.       Mempertahankan keseimbangan cairan
b.      Turgor kulit baik
c.       Hidrasi adekuat dibuktikan oleh membran mukosa lembab
Intervensi dan Rasionalisasi :
Intervensi        : Mengawasi masukan dan haluaran, karakter dan jumlah feses, perkiraan kehilangan yang tidak terlihat dehidrasi
Rasional          : Memberikan informasi tentang keseimbangan cairan fungsi ginjal dan control penyakit usus juga merupan pendoman untuk penggantian cairan
Intervensi        : Kaji TTV
Rasional          : Hipotensi, takikardi, demam dapat menunjukan respon terhadap cairan
Intervensi        : Observasi kulit kering berlebihan dan membrane mukosa, penurunan turgor kulit
Rasional          : Menunjukan kehilangan cairan berlebih / dehidrasi
Intervensi        : Ukur BB setiap hari
Rasional          : Indicator cairan dan status nutrisi
Intervensi        : Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi
Rasional          : Menurunkan kehilangan cairan
Intervensi        : Awasi hasil laboratorium, misalnya Ht dan elektrolit
Rasional          : Mendeteksi homeostasis / ketidakseimbangan, membantu menentukan kebutuhan penggantian.




b.      Resti terhadap kekurangan nutrisi dari kebutuhan tubuh berhubungan denngan intake inadekuat
Kriteria Hasil :
a.       Berat badan stabil
b.      Pengungkapan pemahaman pengaruh individual pada masukan adekuat.
c.       Berpartisipasi dalam masukan diet.
Intervensi dan Rasionalisasi:
Intervensi        : Menimbang BB setiap hari
Rasional          : Memberikan informai tentang kebutuhan diet dan keaktifan terapi
Intervensi        : Memberikan makanan dalam ventilasi yang baik, lingkungan yang menyenangkan dengan situasi tidak terburu-buru
Rasional          : Lingkungan yangn tenang akan menurunkan stress dan lebih kodusif untuk makan
Intervensi        : Batasi makanan yang dapat menyebabkan kram abdomen
Rasional          : Mencegah serangan akut / ekserbasi gejala
Intervensi        : Mencatat masukan dan perubahan simatologi
Rasional          : Memberikan rasa control dan kesempatan yang diinginkan / dinikmati dapat meningkatkan masukan
Intervensi        : Pemberian cairan  elektrolit sesuai indikasi
Rasional          : Membantu memenuhi kekurangan cairan

c.       Resti terhadap gangguan integritas kulit berhubungan dengan iritasi anal
Kriteria Hasil :
a.       Menunjukkan jaringan atau kulit utuh yang bebas akskoriasi.
b.      Melaporkan tak ada atau penurunan pruritus.


Intervensi dan Rasionalisasi :
Intervensi        : Observasi kemerahan, pucat
Rasional          : Area ini meningkatkan  resiko untuk kerusakan dan memerlukan pengobatan intensif
Intervensi        : Diskusikan pentingnya perubahan posisi yang sering untuk mempertahankan aktifitas
Rasional          : Meningkatkan sirkulasi dan perfusi kulit dengan mencegah tekan lama pada jaringan
Intervensi        : Gunakan krim dua kali sehari dan setelah mandi
Rasional          : Melicinkan kulit dan menurunkan gatal
Intervensi        : Pijat kulit khususnya diatas penonjolan tulang
Rasional          : Memperbaiki sirkulasi pada kulit, meningkatkan tonus kulit
Intervensi        : Tekankan pentingnya nutrisi / cairan adekuat
Rasional          : Perbaikan nutrisi dan hidrasi akan memperbaiki kondisi kulit

d.      Resti terhadap infeksi berhubungan dengan  bakteri sekunder
Kriteria Hasil :
a.       Pasien menunjukkan penyembuhan luka utuh
b.      Jaringan tampak bergranulasi
c.       Bebas tanda-tanda infeksi
Intervensi dan Rasionalisasi :
Intervensi        : Tekankan teknik mencuci tangan yang tepat
Rasional          : Mencegah penyebaran bakteri dan kontaminasi kuman
Intervensi        : Pertahankan teknik aseptic pada penggantian balutan pada prosedur invasive
Rasional          : Menurunkan resiko infeksi nosokomial
Intervensi        : Kolaborasi berikan antimikroba topical / antibiotic sesuai indikasi
Rasional          : Dapat menurunkan kolonisasi bakteri atau jamur yang terjadi pada kulit dan mencegah infeksi

e.       Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan kram abdomen
Tujuan :
Nyeri dapat teratasi
Kriteria hasil :
Nyeri dapat berkurang / hilang, ekspresi wajah tenang
Intervensi :
Observasi tanda-tanda vital. Kaji tingkat rasa nyeri. Atur posisi yang nyaman bagi klien. Beri kompres hangat pada daerah abdomen. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therapi analgetik sesuai indikasi



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar